Kegagalan pertama jual tanah

Kalo denger mediator / agen sukses bertransaksi dan mendapatkan fee yg cukup besar , kadang2 membuat “ngiri” , padahal saya pernah dari awal belajar jual property hampir 1 tahun , kosong atau nol besar , tidak ada transaksi cuma riwa riwi aja , buang energi , buang transport dan buang uang, tapi tambah pengalaman , sehingga kedepan bisa lebih baik dan tidak terperangkap trap/jebakan  yang sama .
Diantaranya cerita ini , bisa diambil manfaatnya utk bisnis properti teman2 .
Kejadiannya tahun 2011 , Tanahnya ini terletak di wilayah Prambon , luas sekitar 1025m2 , saat itu saya memiliki pembeli yang membutuhkan tanah dgn spek sesuai yang ditwrkan teman mediator , bernama A , terus terang saya juga baru kenal A , akhirnya saya surve tanah tsb , saat sy menginginkan klarifikasi atas dokumen tanah tsb dan harga serta pemilik , dia marah2 dan bilang , “mana dulu pembelimu ? tanya2 segala macam ” dgn merengut , akhirnya saya tanyakan harganya brp dan bagaimana aturan main komisinya ? , kata dia harganya “225jt bersih tanpa pajak” dan komisi “2.5%”  , akhirnya saya bilang ke dia “sudah valid ya ? saya laporkan pembeli saya , ok ? ” , kata dia , boleh , “dispeaker aja , biar saya dengar , apa bukan pembeli abal2 seperti biasanya ” .  Akhirnya saya bel ibu “B” pembeli saya dan saya tanyakan posisinya , kebetulan dia juga lagi surve di Mojosari , akhirnya saya bilangi “Bu, ada tanah sesuai , spek , datang sekarang mumpung masih ready ” , si mediator itu saya lihat agak berkeringat saya gak tau kenapa , akhirnya ada keputusan dia otw ke tanah yang saya surve , tdk sampai 1 jam , ibu “B” dan suaminya datang , saya bersama “mediator” itu mengantar liat2 kondisi tanah , harga , status surat tanah  sdh kami kemukakan sesuai ke terangan pak “A” si mediator , akhirnya ibu “B” dan suaminya mengajak saya berunding dan katanya “sudah seneng n cocok ” mau ke ATM dulu ambil dp 25juta , akhirnya saya sampaikan ke Pak A , anehnya dia tdk nampak senang , malah minta waktu sampai jam 3 (saat itu sekitar jam 11 siang) , nanti dikabari katanya , akhirnya kami pulang , dgn harap2 cemas , saya merasa bersyukur bisnis pertama saya bisa “berhasil” , jam 4 saya tunggu ga ada telpon, malah pembeli yg telpon nanyakan , jam 5 , jam 6 , waduh saya keringat dingin ini , ada apa ya ? , akhirnya pak A , saya telpon , ternyata ????
Dia minta maaf , pemilik tidak dijual , dan kalo dijual minta 500juta , walaupun memang harga pasarnya 225juta , “Dunia Kiamat” , hehehe,   “mediator”  yang tdk profesional , yang citarasanya baru saya kenali , “tidak mampu bekerja dengan teliti dan serius , tapi bilangnya sudah beres , saya yang diberi kuasa untuk menjual (tanpa surat lho ya! , 99.99% bohong , hehehe ) kalo istilah saya “kuli nyamar jadi tukang” jadi mawut semua   ,  ketemu orang2 model begini , bisa buang waktu , cuma dapat sibuk aja, kalo gol jg serakahnya minta ampun . nanti ada cerita lainnya , tapi saya jg selalu berusaha mengedukasi mereka dengan cara kerja saya , dan apabila tidak mau berkembang atau tidak siap dikembangkan , harus di coret dari list partner kerja saya
Akhirnya dgn terus terang saya kemukakan , walaupun pembeli kecewa dan marah2 saya terima, bagaimanapun itu juga salah saya , blm membuat sistem yg jelas sehingga ada celah bagi orang ga profesional mengacaukan kerjaan saya  , sdgkan pak A ,  nomer  hpnya ga aktif , mungkin takut dimarahi banyak orang , hehehe , tapi ada juga kok , mediator yang punya “integritas” dan “mau bekerja keras” , “tak kenal maka tak sayang” kalo berhubungan dengan mediator harus dicoba dulu bekerja sama dlm satu proyek , akan ketahuan , dia orang model apa ,  istilah saya “luntur nggak kain itu kalo dicelup ke air” , ada yg langsung luntur saat job pertama , ada yg kedua , ada yg ke lima , ada yang tidak luntur atau berintegritas , nah ini partner kita , tp tetap harus berhati2 karena manusia tempatnya perubahan

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *