Kegagalan ketiga, tanah 2ha pandaan

Urutan kegagalan tidak selalu tahunnya juga berurutan , berdasarkan kejadian yang paling membekas dan traumatik yang membuat saya ingin berhenti PASCA GAGAL tersebut.

Setiap saya menulis kisah kegagalan saya, rasa sakitnya  masih terbayang nyata , tapi saya “kemukakan” agar teman2 menggunakannya sebagai iktibar , agar jangan terperangkap di jebakan yang sama , tapi bersiaplah terhadap berbagai macam skenario kehidupan yang bakal menghadang .
Tahun 2012 jg, Saya memiliki calon pembeli yang membutuhkan tanah dgn spek , luas 2-3 ha, lebar min. 50m , budget dibawah 200rb/m2, sdh beberapa kali saya survekan masih belum cocok aja . Suatu hari saya bertamu kermh saudara , disana saudara saya menghubungi beberapa teman mediatornya setelah saya cerita bahwa ada “pembeli” yang belum dapat “tanah”, beberapa hari kemudian saya dikontak “bahwa ada tanah sesuai spek ” dekat Waterpark Taman Dayu ,  saya tanya dari jalan raya brp km dan akses trailer bs / nggak ? mereka menjawab , “sekitar 2 km dan trailer bs lewat”, akhirnya saya atur jadwal ketemuan dgn mereka di pandaan pasuruan , “ampuuun  , jumlah mediatornya sekitar 5 orang yang menemui saya ” ,  akhirnya kami berangkat surve lokasi , hujan2 , dari jalan raya berkelak kelok katanya 2 km , mungkin sekitar 10km, sampai saya berpikir “bisa kesasar nih kalo ditinggalin” tapi memang jalannya cukup besar cuma dalam banget , akhirnya “nyampeklah” ,  harganya 100rb/m2 , 2 ha , lebar 56m , waktu saya minta copy sertifikat , tidak ada katanya “penjual sudah frustasi berkali2 dilihat ga cocok aja , kalo cocok langsung ketemuan aja” , sebenarnya saya sdh merasa ga enak , tapi saya selalu “positif thinking” barangkali memang itu yang terjadi .
Seminggu kemudian saya bersama pembeli surve ,  singkat kata pembeli akan ngebel saya 2 – 3 hari kemudian keputusannya cocok / nggak ,  besoknya sy diundang para mediator tsb di rmh saudara saya ,  saya datang kesaya , yang datang lebih banyak lagi , ngundang siapa aja itu ya , hehehe? , mereka mau membicarakan konsep pembagian komisi bila terjual , ruame    ,  sampe pusing saya ngomong duit “imajiner” , akhirnya saya bilang “saya ga muluk2 pak, sekiranya pembeli saya cocok ,  TANAH TSB HARUS BISA DIBELI !!! ” , mereka tertawa2 sambil bilang “aneh, masak rejeki ditolak”
2 hari kemudian ada telpon dari pembeli saya ” Pak Eka, kami sudah cocok tanahnya ,  kapan kami bs ketemu penjualnya ? ” , Bayangkan ???? hehehe, cocok, pengin loncat rasanya , akhirnya saya lgsg bel teman2 mediator , sambil bilang “Tanahnya cocok , akan dibeli , atur jadwal dengan pemilik kapan ketemuan ? ” , mereka menjawab “besok kita ketemuan di rmh saudara pak Eka ” .
Saat saya tiba dirmh saudara saya “Sepi , ga ada mediator satupun ” , aneh , saudara saya dan saya aja omong2 , dan saya bilang ke dia “teman teman sampean kalo ini bisa transaksi , saya acungi jempol , karena dalam pengalaman saya ,  kebanyakan mediator yang saya temui seperti buih dilautan , rame ,  suka ngomong untung juta jutaan , tapi sikapnya dan cara kerjanya belum bisa meyakinkan bahkan untuk menghasilkan uang “ratusan ribu” aja tidak bisa apalagi jutaan ” ,  akhirnya saya bel teman2 mediator setelah menunggu 1 jam lebih , 1 jam kemudian “datang 2 orang teman mediator” , dan bilang ” Maaf Pak Eka , BELUM REJEKI KITA , KATA PEMILIK , TANAHNYA TIDAK JADI DIJUAL ”
Saat itu “saya dan saudara saya terdiam , terhenyak ” , kalo saya , takjub , “subhanallah” , akhirnya saya cecar mereka dengan pertanyaan yang saya tau nggak bisa mereka jawab , karena mereka cuma bilang “Kata si A , Si C (yang nggak datang) sudah siap , ready , siap jual ” , padahal mereka diawal sudah saya bilangi kalo ga sanggup ngomong dengan penjual ,  “temukan saya” karena saya kan tau , tipe penjual itu akan membuang waktu kita atau NGERJAIN kita atau memang serius mau jual tanah , mereka tidak mau , takut diserobot lah , dll .  Apa yang terjadi sdh ga bisa ditulis , Gagal maning , berhenti …, No.. , NEXT