Saat sakit , saya membuktikan “KebesaranNya”

“Seseorang tidak akan pernah bersyukur atas kesehatannya sesempurna orang yang pernah terbaring sakit dan merasakan keterbatasan yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya”
itu quote dari saya , hehehe , saya menulis karena saya mengalaminya .
Pada Hari raya Iedul Fitri 2014 , sebenarnya saya sudah merasakan kalo alarm dalam tubuh saya menunjukkan “ketidak beresan” dalam tubuh saya , luka yang lama sembuh , dan cek kadar gula yang  tinggi tidak membuat saya mengurangi aktivitas dan “baik sangka” saya , saya selalu “rutin” bersedekah agar diberikan “kesehatan” dan “kelancaran rizki”  dll .
Saya ingat saat itu , saya dirumah bersama anak laki2 saya , saat saya berjalan telapak kaki kiri saya berkecipak seperti ada airnya  , “mula2” saya tidak merasakannya ,  tapi anak laki2 saya menunjukkan lantai penuh bercak darah ,  akhirnya saya liat ketelapak kaki kiri saya , penuh bercak darah dan lubang2 , saya tidak akan ceritakan bagaimana penderitaan keluarga dan diri saya atas penyakit tersebut ,  yang pasti Pasca dari Rumah Sakit ,  tubuh saya kecil , kurus , saat itu saya hanya berbaring dikamar saja ,  belum kuat berjalan , mengangkat gelas , dan saya ingat saat ingin mendapatkan cahaya matahari , saya berjalan berpegang pada istri sambil bawa kursi  di  depan rumah ,  saya “duduk” di kursi sekitar 60 menit , saya sdh tidak kuat duduk , saya memandang pagar saya , yang jaraknya 5m , saya merasa itu terlalu jauh bagi saya , saya berjalan 2 m , dan berhenti cukup lama , sampai saya mikir kalo ada mobil lewat pasti dibel2 , karena istri sdh brgkt kerja dan saya sendirian , saya ingat 3 bulan msh blm pulih , jadi tidak bisa kerja , zonk , disini saya baru ingat bahwa saya blm memikirkan “passive income” yang akan dibutuhkan setiap manusia jika dia sudah berhenti bekerja ataupun dipaksa berhenti bekerja karena sakit ataupun sebab sebab yang lain ,  ini bagian terbaiknya , saya saluut akan kesabaran dan ketabahan istri saya dan seluruh anak2 saya ,  bahkan saya secara khusus berdoa kepada Allah “bahwa saya tidak rela istri dan anak2 saya disentuh api neraka apapun alasannya , atas kesabaran kepada saya dan segala kerepotan dan keruwetan yang terjadi karena saya sakit, dan saya akan merelakan diri saya untuk ganti / menebus dosa-dosa mereka di Neraka”  , sebagai seorang laki2 , kepala keluarga tentunya tidak rela pemberian nafkahnya tersendat dengan alasan apapun ,  disini saya bersentuhan dgn kebesaranNya ,  saya bisa diel 2 buah “transaksi” sewa gudang di Tulangan dan Sewa Ruko di  Pondok Jati ,  saya tidak ketemu si pembeli , hanya via telpon saja , dan saya atur penjual via telpon aja ,  akhirnya mereka bertemu “sendiri” ,  “belum diel” , saya komunikasi dengan pembeli via telpon sampai akhirnya “DEAL” ,  akhirnya ada sms dari pemilik gudang dan ruko , saya disuruh kirim no.rek bank saya , dan “transferannya masuk” , Alhamdulillah… , saya bisa ngasih nafkah keluarga saya total sekitar 5 juta saya dapat transferannya , pdhal logika saya , kadang2 saya ikut berproses aja bisa gagal , tapi kali ini “Allah SWT” sengaja menjaga transaksi saya “khusus” buat saya agar semakin yakin akan “kebesaranNya”
Jadi teman2 selama hidup tetaplah bersemangat , karena kebesaranNya ada dimana mana , dan Dia dekat serta Maha berkasih sayang
NB. saya juga menyadari bahwa untuk yang saya anggap “ajaib” mungkin teman2 sdh biasa melakukannya dengan “sukses” malah dengan hasil yang berlimpah , saya maklum , hehehe karena kadang2 definisi “keajaiban” seperti sulap / magic itu adalah sudah terlatih atau tidak , tapi tetap saya merasa kalo berhasil itu atas kemurahanNya dan kalo “gagal” itu kesalahan kita sendiri untuk belajar menjadi “pribadi yang lebih baik atau mencoba cara lain untuk berhasil”